Sabtu, 05 April 2025

Puisi : Tangisan Mama di Tanah Luka

Gambar : Straky Yali

Tangisan Mama di Tanah Luka

Di bawah langit yang kelabu,
aku berdiri menggenggam debu,
tanah ini, warisan darah dan peluh,
telah jadi saksi tangisan yang luluh.

Anakku, tubuhmu terbujur di pelataran,
terluka oleh peluru, bukan oleh perang,
tapi oleh mereka yang berseragam gagah,
yang lupa arti rumah, lupa suara tanah.

Kau berdiri bukan dengan senjata,
hanya membawa suara kebenaran
tentang ladang, hutan dan tanah yang diwariskan bapakmu,
tentang pohon yang kau panjat waktu kecil dulu.

Mereka datang membawa bendera kuasa,
menginjak mimpi dan memadam cahaya,
dan aku, seorang mama, tak mampu menahan,
hanya bisa merintih dalam pelukan kehampaan.

Air mataku jatuh menyiram nisanmu,
bukan karena lemah, tapi karena rindu.
Rindu pada suara tawa di sore yang tenang,
rindu pada harapan yang kini hilang.

Anakku, tidurlah dalam pelukan bumi,
kau telah menunaikan cinta yang suci.
Kelak sejarah akan menyebut namamu,
sebagai cahaya dari luka yang tak pernah membeku.



Share:

0 komentar:

Posting Komentar