Foto Thumbnail YouTube: Wawancara dengan Kaka Mechu Imbiri
Di sebuah teras sederhana dengan dinding bata merah, seorang bapak tua dengan rambut memutih duduk di kursi plastik merah. Kaos putihnya bertuliskan NYC, celananya coklat, jam tangannya sudah pudar. Wajahnya berkeriput, tapi matanya menyala ketika bercerita.
Namanya Kakak Mechu Imbiri. Legenda Strim Band dari Hamadi Gunung. Di bawah videonya tertulis satu kalimat biru yang terus menyala: DARI HAMADI GUNUNG KE JAKARTA.
Video berdurasi 10 menit 23 detik itu bukan sekadar wawancara musik. Itu adalah kesaksian tentang harga diri. Video Wawancaranya Klik disini
1. Semua Bermula dari Radio Kecil Jam Setengah Lima Pagi
Tahun 70-an, Hamadi Gunung belum seperti sekarang.
"Belum ada kebun, belum ada rumah-rumah. Pantat gunungnya itu masih bagus," kenang Kakak Mechu.
Belum ada satu pun grup musik yang berani menyanyi di sana. Setiap pagi, jam 04.30, ia menyalakan radio transit kecil. Gelombangnya susah didapat. Harus dicari pelan-pelan sampai muncul suara. Dan ketika suara itu muncul, itu adalah lagu-lagu Irian Timur. Lagu-lagu wewek tempo dulu, pengaruh dari Papua New Guinea.
Dari radio kresek-kresek itulah jiwanya dibentuk. Sebelum ia mengenal studio besar di Jakarta, ia sudah memegang gitar kecil dan menyanyikan lagu kampung di pertigaan jalan.
Strim Band lahir dari sana. Bukan dari ambisi menjadi bintang, tapi dari inisiatif anak-anak senior Hamadi yang hanya ingin menyanyi.
2. Filosofi yang Menampar Kita Semua
Ini bagian yang paling menampar.
Banyak orang bilang kepadanya: "Kau nanti lapar kalau menyanyi lagu Papua terus, tidak ada apa-apa."
Jawaban Kakak Mechu sederhana dan menggetarkan:
"Kita memang menyanyi lagu-lagu kampung, tapi ingat, kita bukan kampungan. Kita tidak kampungan."
"Saya tidak pernah pindah dari lagu daerah. Kenyataannya saya masih hidup sampai sekarang. Walaupun saya tidak kaya, tapi saya masih hidup."
"Saya dilahirkan di atas tanah ini. Saya bernyanyi untuk negeri ini dan tanah ini. Pertama untuk Tuhan, yang kedua untuk negeri saya, ketiga untuk hidup ini."
Di zaman di mana semua orang ingin terlihat modern, ingin menyanyi lagu orang lain agar dianggap hebat, Kakak Mechu memilih setia. Ia tidak pernah menyanyikan lagu hebat-hebat. Ia hanya menyanyikan lagu tanahnya. Dan kesetiaan itu yang memberinya umur panjang.
3. Guru dari Sang Legenda Black Brothers
Siapa yang mengajari Kakak Mechu bermain gitar? Ternyata Agus, personel Black Brothers.
Sebelum Agus bergabung dengan Black Brothers dan hijrah ke Belanda tahun 1977, ia adalah teman dekat Kakak Mechu. Mereka sekolah bersama di Hamadi, Kota Jayapura, pernah sama-sama di Biak di Keluarganya.
"Orang bilang saya ini orang Biak. Tidak, saya orang Waropen," katanya sambil tertawa.
Banyak lagu yang meledak dibawakan Black Brothers ternyata adalah lagu-lagu daerah yang mereka dengar bersama sejak kecil. Lagu-lagu yang dulu populer dibawakan Krimus Band di Madiun.
Pesan penting: Legenda pun lahir dari kampung. Tidak ada yang instan.
4. Jakarta Tidak Seramah yang Kita Kira
Inilah babak paling emosional. Pesannya untuk anak muda Papua hari ini:
"Jangan malu dan jangan takut menyanyi lagu-lagu Papua. Itu hidup."
Tahun 70-an, di Televisi Nasional sudah ada penyanyi Batak, Jawa, Ambon, Timor Timur. Tapi penyanyi Papua? Tidak ada satu pun. Semua takut. Semua minder.
Masuk ke studio rekaman besar di Jakarta? Mustahil.
"Macam kita artis tidak ada nama, orang kampung bisa menyanyi situ tidak bisa. Tidak bisa masuk seenak perut bilang ah gampang lah, tidak."
Studio itu hanya untuk artis besar Indonesia. Mereka ditolak berkali-kali. Abang Yoris Raweyai ditolak. Akhirnya harus lewat satu pintu: Pak Yapto dan Pak JK. Komandan Pemuda Pancasila Jakarta saat itu.
Kalimat legendaris itu masih ia ingat sampai sekarang:
"Gue mau, lu enggak mau, lu harus mau."
Kalimat itulah yang membuka pintu Jackson Records Jakarta. Ia masih ingat, pagi jam 10 mereka masuk studio, di dalam ada Ria Angelina yang sedang rekaman. Operator telepon Pak JK, Yudi Kristanto. Jawaban Pak JK: "Ini orang Papua ya, suruh Ria keluar, biar mereka masuk."
Saking susahnya orang Papua mendapat satu slot rekaman.
Lalu apa hasilnya? Album pertama meledak. Hampir 1000 kopi terjual. 6 bulan pertama 6.000 kopi, dua tahun kemudian lebih dari 100 ribu.
Tapi... tidak ada kontrak. Dua album pertama kosong, tanpa kontrak. Tidak ada royalti.
"Kalau sekarang rugi memang rugi besar. Tapi waktu itu kami hanya berjuang supaya bisa tampil, bisa menyanyi di Jakarta."
Untuk makan saja mereka harus puasa Senin-Kamis. "Senin kasih, Senin Kamis makan." Orang kira di Jakarta enak. Tidak.
5. Moto Hidup yang Harus Kita Wariskan
Di akhir wawancara, Kakak Mechu dengan tangan mengepal di dada menyampaikan motonya:
"Kita bernyanyi dengan cara orang Papua bernyanyi. Orang lain boleh menyanyi seperti mereka, tapi pada dasarnya kita harus menyanyi seperti orang Papua menyanyi."
Dua prinsip yang ia pegang sampai hari ini:
1. Jangan malu mengaku diri sebagai orang Papua.
2. Jangan malu menyanyi sebagai orang Papua, itu akan hidup panjang.
Dari kursi plastik merah di teras rumah berdinding bata merah itu, Kakak Necu Imbiri mengajarkan kita satu hal: Identitas bukanlah beban yang harus disembunyikan agar bisa diterima industri. Identitas adalah satu-satunya modal yang membuat kita bertahan puluhan tahun ketika yang lain hilang.
Ia tidak kaya. Tapi ia masih ada. Masih hidup. Masih menyanyikan lagu kampungnya.
Dan itu lebih dari cukup.
Jika hari ini kau malu memakai koteka, malu menyanyi dalam bahasa daerahmu, malu mengaku asalmu karena takut dianggap kampungan, ingatlah Kakak Mechu Imbiri.
Karena justru dengan tidak malu itulah, namanya dari Hamadi Gunung bisa sampai ke Jakarta, dan abadi sampai hari ini.
0 komentar:
Posting Komentar